Hujan Bulan Juni (2017)
Monday, August 13, 2018
Edit
Hujan Bulan Juni (2017) - Hallo sahabat http://carinhere.blogspot.com, Pada Artikel yang anda baca kali ini dengan judul Hujan Bulan Juni (2017), kami telah mempersiapkan artikel ini dengan baik untuk anda baca dan ambil informasi didalamnya. mudah-mudahan isi postingan
Artikel Adipati Dolken,
Artikel Baim Wong,
Artikel Faozan Rizal,
Artikel Hestu Saputra,
Artikel Indonesian Film,
Artikel Koutaro Kakimoto,
Artikel Lumayan,
Artikel Review,
Artikel Romance,
Artikel Surya Saputra,
Artikel Titien Wattimena,
Artikel Velove Vexia, yang kami tulis ini dapat anda pahami. baiklah, selamat membaca.
Judul : Hujan Bulan Juni (2017)
link : Hujan Bulan Juni (2017)
Anda sekarang membaca artikel Hujan Bulan Juni (2017) dengan alamat link http://carinhere.blogspot.com/2018/08/hujan-bulan-juni-2017.html
Judul : Hujan Bulan Juni (2017)
link : Hujan Bulan Juni (2017)
Hujan Bulan Juni (2017)
Hujan Bulan Juni selaku pembiasaan novel puitis berjudul sama buatan Sapardi Djoko Darmono dari luar tampak sederhana tapi mengandung pergolakan rumit nan filosofis soal cinta di dalam. Mengisahkan Sarwono (Adipati Dolken) dan Pingkan (Velove Vexia), sepasang kekasih yang mengajar di Universitas Indonesia. Sarwono yang menentukan puisi sebagai cara mengungkapkan segala isi hati kepada Pingkan mulai khawatir begitu sang kekasih bakal melanjutkan kuliah di Jepang selama dua tahun. Alasannya Katsuo (Koutaro Kakimoto, putera Tetsuo Kurata alias Kotaro Minami), laki-laki Jepang sesama alumni UI yang akan menemani Pingkan selama masa studinya.
Ini bukan semata konflik saling cemburu saling curiga yang kerap dijumpai dalam karya romansa populer. Seperti gaya bahasa metaforik multitafsir Sapardi, skenario karya Titien Wattimena menimbulkan puisi media penyusun analogi guna merangkum setumpuk aliran serta problematika kompleks. Ada problem perbedaan suku pula keyakinan yang menyeret keluarga Pingkan (Sarwono ialah Jawa-Islam, Pingkan Manado-Kristen), keresahan terkait kesetiaan, hingga gagasan-gagasan Sarwono terkait cinta. Betapa sulit menuturkan bermacam-macam hal tersebut melalui paparan narasi tersurat.
Ketersiratan membantu menyingkat penyampaian sembari menjangkau makna terdalam. Tentu butuh kesediaan penonton menguraikan benang berbentuk kalimat bersayap maupun simbolisme. Sebutlah perjalanan ke Manado yang notabene rumah Pingkan. Di sana pikiran Sarwono diganggu dua pria. Benny (Baim Wong) jadi perwakilan masa kemudian Pingkan, dan Katsuo yang segera mengisi rutinitas Pingkan di masa depan. Sementara Pingkan mesti bergulat dengan jati dirinya sebagai keturunan Manado. Proses tersebut makin berarti alasannya ialah hadir di rumah atau kampung halaman selaku daerah segalanya bermula, layaknya menyusuri ruang paling dalam sekaligus paling faktual karakternya.
Pun pemakaian sajak Sapardi memberi kenikmatan tersendiri. Mendengarkan lantunan bait demi bait senantiasa mengundang decak kagum atas pengolahan kata sang penulis. Demikian indahnya, tanpa perlu memikirkan interpretasi niscaya pun hati ini sanggup kembang-kempis dibuatnya. Mendukung perjuangan Hujan Bulan Juni memvisualkan puisi, sinematografi Faozan Rizal memproduksi jalinan gambar yang menyimpan tuturan di balik keindahan. Kelopak bunga sakura, debur ombak, nyala neon berbentuk salib, masing-masing bagai punya kisah untuk diceritakan. Kisah yang mewakili rasa dua tokoh utama.
Penyutradaraan Hestu Saputra (Cinta Tapi Beda, Air Mata Surga) juga mencapai titik terbaik, menuangkan sensitivitas dalam keintiman Sarwono dan Pingkan lewat kedekatan batin ketimbang fisik. Bentuk olah rasa serupa dilakukan oleh Adipati Dolken dan Velove Vexia. Adipati dengan kelembutan natural yang menyimpan kerapuhan guna menjauhkan Sarwono dari kesempurnaan, Velove dengan energi ditambah keanggunan sehingga Pingkan layak dipuja. Mereka mulus bicara lewat hati, bercinta memakai kata. Sedangkan Baim Wong bersama Surya Saputra berjasa menyuntikkan humor segar yang menambah dinamika kunjungan ke Manado.
Sayangnya transformasi bahasa sajak ke sinema belum sepenuhnya lancar. Terdapat dua kelemahan di dua poin vital. Pertama monotonitas alur. Media novel tak menghadapi problem ini lantaran membiarkan imaji pembaca bebas bermain. Tapi di film, puisi serta gambar indah tidak sanggup menyembunyikan repetisi momen "tukar puisi" Sarwono dan Pingkan. Kedua, menerjemahkan ambiguitas ending novelnya yang berupa sajak bukan perkara gampang. Kembali, film butuh visualisasi, memaksa ambiguitas tadi dilucuti. Hasilnya ialah epilog yang terburu-buru, dipaksakan, bahkan ibarat kebingungan menentukan arah.
Demikianlah Artikel Hujan Bulan Juni (2017)
Sekianlah artikel Hujan Bulan Juni (2017) kali ini, mudah-mudahan bisa memberi manfaat untuk anda semua. baiklah, sampai jumpa di postingan artikel lainnya.
Anda sekarang membaca artikel Hujan Bulan Juni (2017) dengan alamat link http://carinhere.blogspot.com/2018/08/hujan-bulan-juni-2017.html



